Gadget Yori Selama Tahun 2016

Hola! Udah lama nggak nulis blog, tiba2 udah tahun baru aja. Selamat tahun 2017 ya, guys! Yang belum bikin resolusi, segera. Yang mau lapor pajak, segera. Yang mau nikah, …nabung dulu. Jangan ngerepotin orang tua. #lah

Kali ini mau bahas tentang gadget apa yang pernah saya beli dan saya pakai di tahun 2016, terutama smartphone & tablet, beserta review singkatnya. Sebenernya mau bikin satu-satu, tapi males. Jadinya langsung dicompile saja di satu post ini. Bisa dibilang nanti lebih ke review tahunan sih ya, hahahaha. Oke, berikut beberapa gadget yang saya beli dan pakai di tahun 2016:

iPad Mini 1, Cell + WiFi 16GB

Ini gadget pertama yang saya beli, lebih tepatnya gadget baru yang pertama dipake di tahun 2016. Gadget pertama yang dibeli pakai duit sendiri. Iseng banget belinya, hanya karena pengin main game di layar besar. Waktu itu lagi rame-ramenya Clash Royale soalnya, hehehe. iPad Mini 1 ini enak banget untuk main game ringan, atau sekedar Youtube dan browsing doang. Layar yang belum retina display bikin battery 4.400 mAh terasa irit banget. Besar bodynya pun bisa dibilang pas banget, dan nggak terlalu berat karena ramping.

iPad Mini ini udah saya jual setelah 2 bulan pemakaian, jadi pakainya dari Desember 2015 – Februari 2016. Alasannya? Pengin nyobain Tab Android haha. iPad Mini sampai sekarang masih menarik untuk dipakai sebagai entertainment use, tapi kalo sekarang sebisa mungkin minimal iPad Mini 2, ya. Biar lebih bisa dibuat ngapa2in ((( ngapa2in ))). Lebih mumpuni gitu. Karena zaman sekarang kayaknya nggak mungkin kalo nggak multitasking dan nggak main game dengan grafis lumayan berat.

Lenovo Tab 2 A8-50

Pilihan ini muncul ketika ingin membeli Tab Android yang sudah 4G dengan budget 2 juta di awal 2016, tepatnya bulan Februari. Untuk hal tablet, saya memang selalu cari yang 8″, karena menurut saya 7″ terlalu kecil, dan 10″ terlalu besar. Perbedaan yang paling terasa dari pakai iPad Mini ke Lenovo Tab 2 A8-50 adalah layarnya. Kalau iPad Mini 4:3, Lenovo Tab A8-50 ini 16:9.

Untuk hal menonton film/youtube, Lenovo Tab 2 A8-50 ini juaranya. Bener-bener juara. Layarnya lumayan bagus, speaker udah stereo dts hadap depan dan suaranya lumayan bagus untuk dengerin music video atau streaming Spotify. Kalau untuk bermain game dan multitasking sih saya rasa nggak jauh dari iPad Mini 1. Sayangnya tablet ini saya jual setelah 2 minggu pemakaian. Alasannya? Tiba-tiba males pakai tablet, dan akhirnya berpindah ke smartphone Android.

Pebble Classic Jet Black

featured pebble

Jam ini saya beli berbarengan dengan Lenovo Tab 2 A8-50. Sebenernya juga jam ini sih alasan pengin ganti dari iPad Mini ke Tab Android, biar bs bales notif lewat jam gitu. Asli, nggak penting. Tapi pada akhirnya, Pebble ini jadi salah satu gadget yang wajib saya pakai kemana-mana. Seperti yang kalian tahu, saya jualan iTunes Gift Card (IGC) di igcmurah.net. Sebelum pakai Pebble ini, saya sering banget nggak baca notif. Bukan karena apa, tp emg kadang nggak terasa aja ada notif masuk. Kadang 10 menit, kadang 30 menit. Kalo untuk chat sesama teman, nggak dibales 30 menit itu hal biasa. Tapi bagi pelanggan saya… 30 menit nggak dibales, dia pasti udah beli di seller lain. Jadi dengan adanya Pebble ini saya nggak pernah kelewatan notifikasi dari pembeli. Pas lg nyetir motor pun bisa dilihat dari jam dulu, hp getar karena ada notifikasi apa. Kalo penting, saya minggir dulu untuk bales. Kalo nggak penting, ya lanjut jalan aja. Nggak usah dikit2 buka HP.

Kelebihan dan kekurangan Pebble Classic sudah saya jelaskan di post ini.

Xiaomi Redmi Note 2

Waktu lagi rame-ramenya orang beli Xiaomi, saya juga ikutan dong. Alhasil Xiaomi Redmi Note 2 ini saya beli pada awal Maret 2016 sebagai pengganti Lenovo Tab 2 A8-50. Sejujurnya tidak ada yang salah dengan smartphone ini. Layarnya cukup bagus, bentuknya pun tidak jelek, sudah support 4G. Ya cukup bagus lah untuk smartphone dengan harga 1.6 juta. Tapi menurut saya ada 1 hal yang nggak cocok dengan saya: battery boros. Parah. Main 1 game Clash Royale, yang berarti sekitar 3 menit, battery Redmi Note 2 ini sudah terpakai 5%. Berarti jika dipakai main game, selama 30 menit aja dia udah menghabiskan 50% battery. Lah, gila lu? Hal ini terjadi karena Redmi Note 2 ini dibekali procie Mediatek, yang emang terkenal agak boros daya. Karena illfeel dengan borosnya battery Redmi Note 2 ini, smartphone ini hanya bertahan kurang dari 2 minggu, saya jual untuk cari smartphone lain dengan battery yang irit. Kebetulan, saya juga ternyata nggak cocok dengan smartphone berukuran 5.5″, terlalu besar untuk saya. Nggak nyaman di kantong.

Xiaomi Redmi 3

photo712255919168268835

Xiaomi Redmi 3 saya pilih sebagai pengganti Redmi Note 2 karena beberapa hal. Pertama, karena saya udah cocok aja pakai MIUI, dan smartphone ini sudah mendukung 4G. Kedua, Redmi 3 berukuran 5″, ukuran yang paling pas menurut saya. Dan yang ketiga, yang paling penting, memiliki battery 4.100 mAh. Irit banget, apalagi dibekali procie Snapdragon yang terkenal irit. Saya beli Redmi 3 versi awal banget ya, tanpa embel-embel Pro dan S. RAM 2GB menurut saya sudah cukup, karena tidak pernah mengalami gangguan dalam multitasking, meski tidak lancar-lancar amat transisi antar appsnya. Tapi ada yang cukup mengesalkan dari MIUI, yaitu sering forced close aplikasi. Paling emosi karena yang sering kena forced close app Spotify. Meski begitu, Redmi 3 ini termasuk salah satu smartphone yang paling lama saya pakai selama 2016. Saya pakai dari awal April 2016 – Agustus 2016. 4 bulan!

Samsung Galaxy S7

photo712255919168268504

Setelah 6 bulan saya pakai Android,  pada bulan Agustus 2016 saya komentar lagi ke teman saya, Prasetyo. “Apaan, Pras. Enakan pake iOS. Android kadang interfacenya terkesan murahan, kurang gimana gitu”. Dia pun langsung menunjukkan interface LG G4nya, sambil berkata “Itu tergantung HPnya apa, Yor. Kalo flagship kebanyakan bagus kok. Ya kamu HP harga barunya 1.6jt dibandingkan sama iPhone 5mu yang dulu harga barunya 8jt. Ya jauh”. Deg. Iya juga. Akhirnya setelah lebaran 2016 (lebaran beneran, bukan lebaran kuda), saya berniat membeli handphone flagship. Setelah lihat review sana-sini dan dihasut oleh Prase, saya akhirnya membeli Samsung Galaxy S7 Flat di bulan September 2016. Alasannya: battery irit, RAM 4GB, performa oke, kamera terbaik di kelasnya (pada saat itu. Sekarang kayaknya Google Pixel dan LG V20 udah mulai mengejar), layar sAMOLED QuadHD, dan yang paling penting: support QuickCharge 2.0. Kalo performa ga perlu direview lah ya, tau sendiri flagship pasti bagus. *ditonjokkin*

Saya sering kali ditanya, kenapa nggak beli S7 Edge aja sekalian? Menurut saya lebih ke kenyamanan memakai. S7 Edge emang saya akui bagus banget, tapi layar ukuran 5.5″nya yang bikin saya nggak nyaman. Terlalu besar. Apalagi seri S7 baik S7e dan S7f dibekali spek yang sama. Kecuali seperti iPhone 7 dan iPhone 7+, mungkin saya akan memaksa ke 7+ untuk dapat spek lebih meski mengorbankan harus memakai layar 5.5″. Oh ya, hingga saat ini saya masih memakai S7 dan makin jatuh cinta sama Samsung. I’d definitely buy the next S series.

Samsung Galaxy Tab A 8″ with S-Pen (2015)

Awal Oktober 2016 saya pengin beli Tab lagi, tapi kali ini Android. Setelah konsultasi dengan Prase dan baca review sana sini, pilihan kali ini jatuh ke Galaxy Tab A 8″. Dilengkapi fitur S-Pen, tab ini enak banget buat iseng-iseng gambar, mewarnai, atau sekedar browsing. Untuk nonton video udah lumayan oke, bisa support sampai HD 720p aja karena kebetulan resolusi layar tidak seberapa besar. Mungkin ini penyebab battery Galaxy Tab A 8″ ini irit banget. Biasanya saya bisa sampai 2-3 hari, karena kebetulan juga tidak saya pakai sering-sering. Biasanya nonton Youtube 2-3 video tiap beberapa jam, dan untuk kegiatan ibanking. Terkadang juga saya pakai untuk mengerjakan skripsi, dibantu dengan keyboard bluetooth Logitech K380. Tablet ini sebetulnya sudah ingin saya jual, namun setelah saya pikir-pikir lagi sepertinya saya simpan saja, karena masih belum ada yang bs menyaingi dengan harga yang sama sampai sekarang.

Samsung Gear S2

photo712255919168268837

Awal November 2016, Pebble Classic saya agak bermasalah. Layarnya sering ngeglitch ga jelas. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, smartwatch udah kebutuhan wajib bagi saya, karena untuk membaca notifikasi yang masuk. Akhirnya setelah saya cari-cari calon pengganti, pilihan jatuh pada Samsung Gear S2. Gear S2 ini sudah dilengkapi touch screen AMOLED, sehingga jika memakai watchface background hitam, batterynya irit banget! Rata-rata pemakaian saya, Gear S2 tahan sampai 2-3 hari pemakaian. Pokoknya tiap 2 hari sekali saya charge. Chargenya pun sudah QuickCharge ya, jadi hanya butuh waktu 45 menit hingga 1 jam saja untuk dipakai 2-3 hari. Pilihan watchfacenya pun juga banyak banget. Selain watchface resmi, kita juga bisa pakai watchface 3rd party. Saya pakai aplikasi WatchMaster dengan subscribe layanan Pro-nya, hanya 79rb per tahun. Nggak cuma untuk S2 doang, semua Samsung Gear (S1, S2, S3. Ini Samsung Gear ya, bukan Sarjana), Moto 360, Fossil Q, semua deh pokoknya ada.

Selain karena pilihan WatchFace, Gear S2 juga support apps yang sering saya gunakan. Spotify dan Uber! Jadi kalo sambil nyetir, saya biasanya nggak perlu ubek-ubek Spotify di smartphone lagi. Cukup slide ke widget Spotify, dan tekan Play. Otomatis akan memutar lagu di playlist terakhir yang saya putar. Atau jika perlu pesan Uber, tinggal slide ke widget Uber dan… order. That’s it. Pernah nyoba sekali, dan lokasinya benar. Ajaib.

Nah, itu tadi gadget yang saya pakai selama tahun 2016. Doakan di tahun 2017 ini bisa nyobain pakai berbagai macam gadget lagi hahaha. Amin. See you in the next post!


Sincerely,

sig

Iyori Kharisma

Related Posts...

5 Comments

Leave a Reply