Paspor Ajaib

Tahun 2007 silam, Ayah saya dipindahkerjakan dari Medan ke Hong Kong. Kebetulan, karena saya masih belum seberapa bisa Bahasa Inggris dan biaya hidup di sana sangatlah tinggi, kami — saya, Ibu, dan kakak —  memilih untuk balik ke kota asal kami, Surabaya. Meski kami tinggal di Surabaya, Ibu sering bolak-balik HK-SUB tiap 2 bulan sekali untuk menemani Ayah di sana. Karena saya cuma anak pungut keluarga kami memang banyak yang tinggal di Surabaya, jadi sering ditinggal Ibu dan Ayah bukanlah masalah.

Tidak jarang pula saya sering berlibur ke sana. Saat itu peraturan NPWP bebas fiscal belum ada, jadi setiap berangkat, kami harus membayar (kalo tidak salah) sekitar 500 ribu rupiah/orang. Karena masalah ini, Kepala KJRI Hong Kong saat itu (saya lupa namanya), memberikan surat tanda kependudukan di paspor kami, dengan tujuan terbebas dari biaya fiscal karena memang (sedang menjadi) penduduk sana. Tetapi ternyata ada masalah lain; untuk mendapatkan tanda kependudukan tersebut, kami harus mengurus ID Card (KTP) di imigrasi HK. Untung saja ada teman Ayah di kantor kota, Tante Aryani (semoga tidak salah penulisannya), yang mau mengantarkan saya sekeluarga mengurus di Imigrasi.

Akhirnya pada saat liburan akhir semester ganjil, saya berangkat ke HK dalam rangka pengurusan ID Card. Karena liburan sekolah hanya tinggal seminggu saja, saya dan kakak akhirnya diuruskan izin untuk tidak masuk sekolah selama 1 minggu. Yep, 2 weeks in Hong Kong and it’s totally a holiday. Gimana nggak, mengurus ID Card sebenarnya gak lebih dari 3 hari, kok.

Sesampainya di HK, seperti biasa kami dijemput oleh Ayah dan co-workernya, Mr. Chlement, tepat di depan pintu pesawat. Ayah dulu bekerja di salah satu maskapai penerbangan, sehingga dijemput di pintu pesawat bukan lah hal yang aneh. Biasanya kami hanya berbicara sedikit, peluk-peluk kangen, lalu lanjut jalan ke bagian imigrasi. Ayah biasanya masih menunggu sampai seluruh penumpang turun, lalu menyapa pilot & co-pilot, mengawasi ground handling, baru menyusul kami di pintu kedatangan atau terkadang di kantornya.

Hal yang paling saya tidak sukai saat berlibur ke HK adalah 1; imigrasinya. Imigrasi di HK lumayan ketat. Sebelum masuk ke pintu Imigrasi, kita melewati Thermal Scanner terlebih dahulu. Saat itu memang sedang heboh kasus Flu Burung, sih. Lalu setelah itu, kita mengantri untuk cek paspor.

Setibanya di antrian, kebetulan antirannya tidak seberapa panjang. Saya segera mengeluarkan paspor dan surat imigrasi yang sudah saya isi sebelumnya di pesawat. Saya mencoba mengecek kembali surat-surat saya, siapa tahu ada yang belum terisi. Tak lama, orang di depan saya sudah meninggalkan pegawai imigrasi tersebut. Wah, giliran saya.

 “Good afternoon”, sapa saya sambil menyodorkan paspor dan surat-surat imigrasi.

Kampret. Si pegawai imigrasi cuma mengambil paspor saya, lalu mengecek surat-suratnya tanpa membalas sapaan sok akrab tadi. Dengan tampang santai-aja-keleus, dia membolak-balik paspor saya.

What’s your name?”, tanyanya dengan logat khas. Layaknya orang HK pada umumnya, mereka kesusahan melafalkan r dan l saat bicara dengan Bahasa Inggris.

“Iyori Kharisma”

Where do you from?

“Surabaya, Indonesia”

Have any relatives here?

Yes. I’m visiting my father. Actually he is working here, in the airport. You could call him if there’s any problem

Dia hanya mengangguk, lalu melihat ke arah pegawai imigrasi lain di sebelahnya. Mereka mengobrol kecil sembari si pegawai imigrasi ini membolak-balik paspor saya untuk yang sekian kalinya. Tak jarang mereka tertawa-tawa kecil. Si pegawai imigrasi ini pun lalu mengambil stempel dan mendaratkannya pada paspor saya.

You could only stay for 4 weeks. How long will you stay here?”, katanya, sambil mengembalikan paspor.

I only need 2-3 weeks. Thank you

Saya pun mengambil paspor saya dan berjalan menuju tempat pengambilan bagasi. Di sana Ibu dan kakak saya sudah menunggu. “Mesti lama. Curiga kalo kamu teroris paling”, ledek Ibu. Nggak tahu kenapa, di antara kami selalu saya yang paling lama. Padahal Ibu sendiri pakai kerudung, yang biasanya lama banget ditanya-tanyain orang imigrasi. Ini memang misteri yang tidak bisa terpecahkan. #apeu

Setelah mengambil koper, Ibu dan Kakak saya beranjak untuk menunggu Ayah di waiting area dekat pintu kedatangan. Karena saya malas menunggu, saya naik ke lantai 3, lalu masuk tangga darurat yang menuju ke lantai 2, area perkantoran. Pikir saya, daripada nunggu di bawah, mendingan mampir ke kantor Ayah.

HKIA, atau Hong Kong International Airport, terdiri atas 2 terminal. T1 adalah airport utama, sedangkan T2 masih digunakan untuk beberapa maskapai dan fungsinya kebanyakan untuk Entertainments. T1 dan T2 masing-masing terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama sebagai pintu kedatangan, lantai kedua sebagai office, lantai ketiga sebagai keberangkatan dan Entertainments (khusus T2). Apa saja Entertainments yang ditawarkan? Ada Restaurants, Shops (ada retail besar di sana yg menyediakan berbagai macam elektronik), 4D Cinema, dan masih banyak lagi! 

Di HK memang saya sering kali mampir ke kantor Ayah. Selain mampir minta duit jajan, biasanya saya juga bermain dengan para co-workers Ayah. Ada 2 orang yang sering sekali saya jadikan kawan bicara, Mr. Chlement dan Mr. Aming. Mr. Chlement ini seperti kebanyakan orang berkecukupan di HK. S1 dan S2 di Australia/Eropa, speak English fluently, kaku. Ya, begitulah. Berbeda dengan Mr. Aming. Pendidikan Mr. Aming tidak setinggi Chlement. Tingkah lakunya seperti kebanyakan orang Cina di film. Kocak, friendly, geeks. Kelebihan dia dari Chlement adalah cara dia berinteraksi dengan pelanggan & rekan kerja. Pemecahan masalahnya tingkat dewa, kata Ayah. Dan yang paling saya suka, HE’S A GAMER. Dia selalu tak lupa membawa PSP di tas kerjanya, tentunya dengan game paling hits. Sering kali saya mampir ke kantor dan mengajak dia duel, sampai-sampai menganggu waktu kerjanya. Biasanya kalau ketahuan Ayah, saya sering disuruh balik ke apartemen ataupun disuruh jalan-jalan. Fuh.

 “Hey, you come again, ya?”, sapa Mr. Aming, saat saya baru saja masuk kantor Ayah. Dia berdiri di balik biliknya sambil tersenyum. Dia memang orang asli HK yang paling ramah dan friendly yang pernah saya kenal.

Yes, I’m on holiday now.

Saya masuk ke ruang pantry untuk membuat teh hangat, lalu berjalan ke bilik Mr. Aming. Seperti biasa kami mengobrol banyak. Mulai dari soal video game, sampai bercerita tentang anaknya yang saat itu sedang belajar salah satu ilmu bela diri. Sering juga sih dia mengadu tentang Ayah yang sering tidur di kantor karena saking sibuknya kalau ada flight delay menjelang tengah malam.

I’m gonna have a HK ID Card soon. Hehe”, pamer saya sambil mengganti topik pembicaraan.

Ah, good-good. Don’t forget to go to Macau lah. I guide you. Lot of beautiful places there

Mr. Aming ini memang sudah semacam guide pribadi keluarga saya di sana. Selalu menemani keluarga saya, terutama Ayah jika mengitari Hong Kong. Bahkan Ayah pernah cerita, Mr. Aming sering menemani Ayah dan tamu-tamunya kalo ke Macau. “Mr. Aming suka kalo ke sana, mainan mesin dan main-main di Casino itu”, kata Ayah. Olala, gambler ternyata.

Well, I’ll talk to my father about that”, kata saya sambil berjalan ke pantry untuk mengembalikan gelas. Setelah pamit, saya pun kembali menemui Ibu dan Kakak saya. Ternyata Ayah saya sudah di sana. Kami pun memutuskan untuk beristirahat sambil menata bawaan di koper di apartemen kami di daerah Tung Chung.

***

Keesokan harinya, saya dibangunkan oleh suara alat berat konstruksi di depan apartemen. Apartemen kami terletak di sisi pinggir Lantau Island, menghadap ke arah airport. Dari jendela apartemen, terlihat HKIA yang luasnya hampir sepulau, Ngong Ping 360, dan juga konstruksi yang entah sudah jadi apa sekarang. Saya lihat temperature  yang tertera pada jam di atas meja kerja Ayah, kalau tidak salah 16-17° C. Yang jelas dingin banget, mana angin juga kencang. Kebiasaan saya saat pagi adalah ke kamar mandi untuk sikat gigi, cuci muka, lalu berangkat beli susu murni botolan di 7-Eleven di bawah komplek apartemen. Iya, nggak mandi. Saat itu harganya 7 HKD (1 HKD = Rp 1100, kurs lama), tetapi jika botol dikembalikan setelah diminum, akan diberi uang HKD 1 dan beberapa sen, tidak pernah saya hitung jumlah pastinya. Sering juga saya beli Ice Cream, sampai-sampai penjaga apartemen saya juga bingung, musim dingin kok ngemilnya Ice Cream.

Setelah balik, saya sarapan bareng keluarga, mandi dahulu, lalu kemudian kami — Saya, Kakak, Ibu — diantarkan oleh Ayah ke Wan Chai, kota tempat Tante Aryani — teman Ayah di kantor kota yang mau mengantarkan bikin ID — bekerja. Tante Aryani ini dulunya WNI. Tetapi karena beberapa sebab, ia pindah kewarganegaraan menjadi warga HK. Karena sudah menetap lebih dari 10 tahun di sana, jangan kaget kalo Bahasa Cantonese-nya sangat lancar. Banyak sekali WNI berdarah Cina yang berujung berpindah kewarganegaraan menjadi warga HK. Kebanyakan dari mereka pindah karena ada kerusuhan tahun ’98, dari yang awalnya ingin singgah sebentar hingga kerusuhan selesai, sampai pada akhirnya takut untuk kembali ke tanah air.

Salah satunya, rekan kantor Tante Aryani yang akhirnya juga menjadi sahabat saya di sana, Om Piter. Dia orangnya sangat friendly, melek teknologi banget. Anak-anaknya lucu pula. Oke, OOT. Tapi seriusan; lucuuuuuuuuuuu. Om Piter ini rekan dalam membeli gadget bagi saya. Mulai dari PSP, HTC TyTn II, BlackBerry Javelin, semua gadget yang pernah saya pakai ini merupakan saran dari dia. Termasuk laptop yang saya pakai sampai sekarang, sih.

Oke, back to topic.

Wan Chai bisa dibilang jauh banget dari Tung Chung. Gimana nggak jauh, beda pulau, bro. Sekitar 25 menit perjalanan saya ke Wan Chai. Sampai di Wan Chai kurang lebih pukul 1 siang. Pas, sehabis istirahat makan siang. Kami pun langsung menuju ke kantor kota. Di kantor kota, Ayah langsung mengantarkan ke meja Tante Aryani. Setelah berkenalan dan ngobrol-ngobrol, kami pun berangkat menuju kantor imigrasi di Immigration Tower, yang hanya berjarak 10 menit dengan berjalan kaki dari kantor kota. Karena HK terkenal dengan public transportationnya yang canggih, pedestrian di negara ini sangat difasilitasi. Jembatan penyebrangan nggak cuma bisa diakses dari jalan, tapi langsung dari lantai 2 gedung beberapa kantor yang berada di sekitar juga. Jadi, lebih mirip jalan daripada jembatan penyebrangan.

Pedestrian Bridge

Tante Aryani menjelaskan prosedur pembuatan ID Card, dan saya panik saat dia bilang akan ada finger print, yang nantinya dibuat keluar masuk HK. Jadi kalo udah punya ID, antrinya nggak perlu kayak tadi. Ngantri, dicek paspor, ditanya-tanyain. Cukup scan fingerprint, kasih paspor, langsung stempel. Beres.

“Lho, Yori kenapa kok bingung gitu?”, Tante Aryani tanya.

“Anu… kemarin itu saya baru belajar solder waktu mata pelajaran elektro. Terus… fingerprint jempol sama telunjuk tangan kanan hilang”

“Kok bisa?”

“……kena solder”

“…….”

Yaudah deh, akhirnya diketawain sama Ibu dan Tante Aryani. Pembelaan: SOLDER MENYOLDER ITU NGGAK MUDAH, JENDERAL.

***

Sampai di Immigration Tower, Tante Aryani langsung mengambil beberapa form yang dibutuhkan. Ibu lalu dengan sigap menerima form itu lalu membantu anak-anaknya yang ganteng dan cantik ini untuk isi form. Tante Aryani pun menunggu di samping kami, sambil sesekali memandu jika Ibu terlihat bingung.

Setelah form terisi semua, Tante Aryani lalu menyerahkannya ke petugas imigrasi, lalu menyuruh kami menunggu di entah bagian apa lah itu. Pertama, kami disuruh duduk, lalu melihat kamera. Tanpa countdown yang baik dan benar, petugas imigrasi ini langsung main jepret aja. FYI, pegawai imigrasinya wanita, sudah tua. Kalo dihitung pake ilmu sotoy sih sepertinya umurnya 40an kali. Sesudah foto, dilanjutkan dengan proses pengambilan fingerprint. Untung saja fingerprint saya masih ada walaupun sangat tipis, sampai-sampai saya harus menekannya sedikit kuat. Selanjutnya, proses entry data. Petugas imigrasi ini pun meminta paspor saya. Saya menyerahkan paspor sambil berpikiran, “Ah, bentar lagi selesai, nih”.

Wanita paruh baya ini meneliti isi paspor yang saya berikan, sambil beberapa kali memperhatikan wajah saya. Lama kelamaan, dia lebih bisa dibilang sedang meneliti dibandingkan hanya memperhatikan. Matanya bergerak dari rambut, sampai ke mata kaki saya. Meskipun saya tahu, tidak hanya dia yang biasa memperhatikan saya seperti itu. Biasa aja, deh. *diludahin*

“So, you’re a boy?”, tanyanya.

“Yes, of course.”

Ia membolak balik paspor saya lagi. Matanya sedikit melotot, mencoba memperhatikan tulisan-tulisan yang ada di paspor saya.

“You’re not a girl?”, tanyanya lagi. Nyebelin.

“Sure, I’m a boy”

Lalu ia tertawa pelan, lebih bisa dibilang tersenyum sambil bengek dikit. Tangannya memukul permukaan meja sekali. Dengan kelakuannya yang seperti itu, saya jadi makin yakin, jangan-jangan dia Sadako.

“What’s wrong?”

Saya melihatnya tajam. Dia berhenti tertawa, menarik nafas, lalu tersenyum.

“Oh, you’re so cute. I almost believe that you’re a girl. This…”. Ia bangkit dari duduknya, dan kemudian menyodorkan paspor saya.

“It’s written here that you’re a girl. You’re female.”

Setan. Ternyata, di paspor saya, saya ditulis P/F (Perempuan/Female). Sekali lagi. SETAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN. Pantes aja selama ini kalo diimigrasi selalu lama banget ditanyainnya, mungkin pada curiga gitu cewek kok tapi bisa ganteng banget gini.

Saya menoleh ke Ibu saya, lalu melihat ke Tante Aryani. Dan iya aja, mereka juga ketawa. Belum lagi muka Kakak saya yang seneng banget paspor adeknya salah cetak. CETAN CEMUAH, CETAN.

Tante Aryani pun akhirnya berbicara dengan petugas imigrasi ini, mencari jalan keluar. Jalan satu-satunya adalah dengan mendatangi KJRI di Hong Kong, dan meminta keterangan yang ditulis di halaman paspor bahwa gender yang tertulis di paspor tersebut salah, dan yang benar adalah laki-laki. Ternyata caranya ribet, kirain tinggal tunjukin titit aja. (Paragraf berikut telah lolos proses penyuntingan)

Akhirnya karena memang sudah tidak aja jalan lain selain ke KJRI, kamii akhirnya mencari stasiun MTR terdekat dan langsung balik ke apartemen, sedangkan Tante Ariyani langsung balik ke kantor kota untuk melanjutkan kerjaannya yang tertinggal.

***

Besok paginya, kami ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) untuk Hong Kong di Causeway Bay. Causeway Bay sangatlah terkenal bagi kalangan orang Indonesia di sana, karena TKW kita berkumpulnya di sana. Lebih tepatnya, di Victoria Park.

FYI, TKW sana tuh dandanannya ngalah-ngalahin pejabat. Pokoknya kalo lihat orang dandanannya ekstrim, fesyen-nya edyan, tunggu dulu sampe dia ngomong. Kalo medok, berarti TKW Indonesia, deh. Banyak juga dari mereka yang dandan ala cowok seperti Mitha The Virgin. Dan iya, mereka lesbian.

Karena banyak orang Indonesia, di daerah Causeway Bay sangat banyak toko yang menjual makanan ataupun jajanan Indonesia. Ada Indomie, macam-macam kerupuk, dll. Karena Ayah kangen sama masakan Indonesia, akhirnya kami mampir ke salah satu restoran milik WNI turunan Cina di sekitar KJRI. Makanan yang dijual bermacam-macam. Mulai dari Nasi Pecel, Nasi Campur dengan berbagai macam sayur dan lauk, dan juga tidak ketinggalan; gorengan!

Makan masakan Indonesia di sini memang bikin kangen tanah air sedikit hilang, asal kalau makan jangan sambil mikirin harga aja. Untuk seporsi Nasi Campur saja, harganya 50 HKD. Pisang goreng dan kerupuk bisa didapat dengan harga 5 HKD. Fiuh, asem memang. Tp gimana lagi. Ini satu-satunya alternatif agar bisa merasakan masakan Indonesia. Sebenarnya ada 1 cara lain kalo memang nggak punya malu; SKSD sama TKW Indonesia di Victoria Park. TKW kita baik-baik kok di sana. Pada saat mereka sedang libur, biasanya mereka berkumpul di Victoria Park menggelar tikar, lalu membawa rantang berisikan masakan Indonesia. Setiap ada orang Indonesia yang lewat, kebanyakan dari mereka akan menawarkan makannya, dan mengajaknya makan bersama-sama. Melihat sikap-sikap TKW yang seperti itu, membuat saya makin cinta terhadap Indonesia. ^^

Para TKW di Victoria Park

Setelah acara makan selesai, kami pun langsung menuju KJRI. Di sana kami diberikan semacam ID Card bertuliskan “Visitor”, lalu diantar ke entah bagian apa itu. Setelah dijelaskan permasalahannya, paspor saya langsung digarap. Tidak sampe 10 menit, saya akhirnya resmi, secara internasional, bergender laki-laki. (YEAAAAAAAAAAAY!!!). Kami sekeluarga diajak ke ruang kantor Kepala KJRI HK tersebut. Oh iya, seluruh TV di KJRI ini menayangkan TV Indonesia, lho. Dan entah kenapa Pak KJRI ini memilih untuk menonton TPI sepanjang hari.

Selesai sudah urusan paspor. Untuk ID Card, keesokan harinya langsung diurus oleh Tante Aryani sendiri, karena memang hanya kurang konfirmasi paspor saja. Ah, beruntung deh punya kenalan seperti Tante Aryani ini. Setelah menunggu selama kurang lebih 4 hari, ID Card akhirnya jadi! Data ID Card ini juga bisa ditransfer pada Octopus Card masing-masing individu. Nantinya Octopus Card ini bisa digunakan untuk verifikasi memasuki apartemen (Beberapa apartemen di sana memakai Octopus Card beridentifikasi untuk membuka pintu masuk apartemen).

Di perjalanan pulang, saya masih sibuk berpikir, bagaimana bisa petugas imigrasi tempat saya membuat paspor ini salah dalam penulisan gender. Tetapi, di lain hal, saya juga lebih bingung lagi, bagaimana petugas imigrasi di airport (SUB, CGK, HKG) bisa sampai meloloskan passport holder yang gendernya salah, seperti saya. Masalahnya, tidak 1-2 kali saya berpergian sebelum akhirnya saya mengetahui kesalahan yang bisa dibilang fatal ini. Bisa jadi, mereka bosan karena pekerjaan mereka hanyalah mengecek paspor tanpa ada kegiatan lain. Kondisi psikologis tersebut memang bisa mengurangi kinerja seseorang, hingga tidak teliti dalam mengecek paspor.

Atau, jangan-jangan, ini paspor ajaib.

Image Source:

http://cahayareformasi.com/wp-content/uploads/2013/03/Victoria-Park02.jpg

http://farm1.staticflickr.com/80/235925400_ddba45ae49.jpg

Sincerely,

sig

Iyori Kharisma

3 Comments

Leave a Reply