L.O.V.E.

Everyone tends to think that their crush is the one. They thinks, s/he’s their destiny. They thinks, they were meant to be together. Cinta itu ilusi. Cinta itu sugesti. Terkadang kita sendiri yang mensugestikan diri sendiri bahwa perasaan yang sedang kita rasakan ini benar adanya, bahwa perasaan ini absolut. Tetapi terkadang saat kita sedang asik bermain dengan sugesti, kenyataan datang diam-diam dan menampar kita dengan keras. Sangat keras hingga ilusi itu mulai mengambang, menjauh dari dasar pikiran kita. Dan saat dia sudah mencapai permukaan dan terus melayang tinggi, tinggi dan makin menjauh, kita baru sadar. Kita baru sadar bahwa kita telah bodoh dipermainkan oleh perasaan, oleh sugesti diri kita sendiri, oleh ilusi yang kita buat-buat.

Mungkin masih terngiang di benak kita akan lirik “…love is more than just a game, for two…” di lagu L.O.V.E yang dinyanyikan oleh Frank Sinatra. Yes, it is a game for two. Cinta tidak akan menjadi cinta jika kita memendamnya diam-diam, membiarkannya hanya menjadi sebatas ilusi. Cinta itu butuh realisasi, Jenderal. Cinta itu ilusi yang butuh dipercayai juga oleh orang lain — orang yang kita harapkan — agar menjadi kenyataan.

Let’s say that I’m not good at love, or loving. Saya hanya seorang kaum Adam yang sedang berusaha menerjemahkan apa itu cinta. Sesuatu yang rumit, tapi dengan mudah merasuki hati manusia. Sesuatu yang bisa membuat kita seorang pendiam, pemikir dan periang dalam satu waktu yang sama. Sesuatu yang sampai saat ini belum ada yang bisa merumuskannya dengan pasti. Sesuatu yang diharapkan sempurna. Sesuatu yang diinginkan oleh semua orang untuk menjadi kenyataan.

P.S.:

Penulis tidak sedang jatuh cinta saat menulis tulisan ini.

P.P.S:

Penulis bisa jadi berbohong.

Sincerely,

sig

Iyori Kharisma

Related Posts...

6 Comments

    1. Well, ’cause luckily I found the right person that suit my kind of love. Now, loving someone — by ‘someone’ I mean her — seems like the easiest thing to do on earth. #lopeklopekdiudara

Leave a Reply