Smartwatch Review: 5 Bulan Bersama Pebble Classic

Saya sangat suka jam tangan. Aksesoris satu ini merupakan yang paling nggak boleh lupa dipakai saat mau berpergian. Nggak tau kenapa, padahal awal masuk kuliah tahun 2012 nggak pernah merasa butuh pakai jam tangan, karena sudah punya mindset “ya kalo mau tahu jam kan tinggal lihat di HP”. Eh, sekarang malah nggak bisa lepas. 3 tahun berlalu, sahabat seperguruan saya — Prasetyoh — membeli smartwatch milik Pebble dengan seri Pebble Classic. Kesan pertama lihatnya? Nggak tertarik. Kebetulan sudah punya cukup jam tangan, jadi untuk beli Pebble sebagai bahan “coba-coba” juga masih malas. Hahaha.

Semua berubah ketika saya mulai berjualan online. Karena yang saya jual barang yang sifatnya digital, tentunya pelayanan dan respon yang diberikan harus cepat. Nggak jarang ada pelanggan yang nggak mau tahu kesibukan penjual online, nggak dibales 1-2 menit saja sudah ngespam chat “P” atau “A” berkali2, atau hanya sekedar “ping!”. Setiap mendapat pelanggan seperti itu, saya rasanya ingin mengirimkan sumpah-serapah kepada penemu fitur “Buzz” pada Yahoo Messenger! dan “PING!” pada BlackBerry Messenger. Tae, ah. Nah, untuk mengurangi pelanggan-pelanggan macam gitu, saya akhirnya memutuskan untuk membeli Pebble Classic, smartwatch keluaran Pebble yang paling affordable dan powerful di pasaran.

DSC_0004

Saya beli bekas karena untuk beli baru di Indonesia masih tergolong mahal dan juga untuk masalah garansi pasti sama saja. Barangnya masih mulus banget waktu beli, terpasang screen protector sehingga layar nggak ada baretnya sama sekali. Versi retail, bukan yang Kickstarter Edition. Daya tahan battery masih maksimal, dan tidak ada keluhan/error apapun. Harga beli baru di Indonesia kalau tidak salah sekitar Rp 1.600.000, dan saya beli Pebble Classic Jet Black ini hanya seharga Rp 750.000. I was so lucky.

Memang apa hubungannya Pebble dengan memberantas oknum-oknum spam “PING” chat? Dengan Pebble, semua notifikasi chat di handphone akan langsung dipush ke Pebble melalui jaringan bluetooth. Jadi, cukup baca notif dari layar Pebble saja. Dan… langsung bisa dibalas juga! Caranya seperti di bawah ini:

“Itu canned messagenya dari sananya? Bisa bikin sendiri? Berapa banyak?”. Canned messagenya kita bikin sendiri kok. Dari App Pebble, masuk ke Settings dan pilih Notification Responses. Nanti tinggal isi di sana deh. Berapa banyak? Ratusan #eaaaaaaa. Banyaknya gatau berapa, yang pasti sih bisa banyak banget. Selama ini cuma pakai 5 doang.

Screenshot_2016-07-10-11-07-13_com.getpebble.android.basalt

Fitur di atas sangat memudahkan bagi saya dalam komunikasi dengan pelanggan. Dapat membalas dengan cepat hampir setiap saat, dan juga tidak akan telat membalas chat karena tidak tahu ada notif masuk. Kan sering tuh, kalo HP lagi ditaruh saku atau tas, sehingga kalau ada yang menghubungi kita tidak tahu? Dengan Pebble, nggak akan kejadian lagi, deh.

Fitur Pebble lainnya

Selain dapat membaca notif dan membalas pesan melalui Pebble, sebenarnya masih banyak lagi fitur lainnya. Contohnya ada Health, ada Music, Alarm & Stopwatch, dan juga Watchfaces. Dari fitur-fitur tersebut, yang sering saya pakai yaitu Music dan juga Watchface.

DSC_0186

Music sangat berguna banget waktu saya mendengarkan music di mobil ataupun motor. Ganti-ganti music yang diputar tanpa harus membuka smartphone. Fitur ini integrated dengan app pemutar musik seperti Spotify dan JOOX. Ada tombol Play/Pause, Next/Previous, dan juga Volume -/+.

DSC_0003

Untuk watchfaces, bisa menuju ke https://apps.getpebble.com/en_US/watchfaces untuk mencari watchfaces yang kamu mau, nanti jika sudah menemukan yang disuka, tinggal buka Apps Pebble di smartphone, pilih Watchfaces dan search nama watchfaces tadi. Atau kalo gak mau ribet, dari awal langsung dari Apps juga bisa.

Screenshot (10)

Kelebihan dan Kekurangan Pebble Classic

Semua pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan pada review kali ini, saya hanya menyebutkan kelebihan dan kekurangan yang saya rasakan menurut pemakaian saya, ya.

Kelebihan
  • Battery tahan hingga 5-7 hari.
  • Waktu charge kurang dari 2 jam.
  • Bisa connect ke multidevice (berbeda OS) dalam waktu yang bersamaan. Contoh: iPhone 5 (iOS) dan Samsung/Xiaomi/Nexus (Android) dan Lumia (Windows Phone).
  • Water resistant 5 ATM (50m).
  • Fitur motion wake (shake tangan agar backlight menyala)
  • Harga yang sangat murah dibandingkan smartwatch lainnya (yang rata-rata hanya dapat connect 1 device/1 OS saja)
Kekurangan
  • Tidak ada distributor resmi bergaransi di Indonesia.
  • Tidak ada support untuk pelanggan Indonesia (claim garansi akan dikirim ke US/dari US)
  • Layar Black&White. Untuk warna ada seri Pebble Time (still affordable, 2-3jtan).
  • No microphone dan no heart-rate detector (both available in Pebble 2: $129)
  • No step and sleep tracker (available in Pebble 2)
  • Untuk Notification Responses masih belum bisa di iOS, untuk Pebble Classic. Namun pernah denger dari Prasetyoh, ada yang bilang sih untuk Pebble Time ke atas bisa.

Oh ya, bawaannya biasanya tanpa adaptor. Dan jika kalian mencari, usahakan yang 1A, ya. Dulu Pebble Classic saya sempat pernah ada problem, screen glitch selama beberapa hari. Sampai sekarang masih belum tahu kenapa, dan sudah tidak pernah terjadi lagi. Sepertinya saat itu salah pakai adaptor punyanya Redmi Note 2 (2A), padahal seharusnya pakai punya iPhone (1A).

Jika kalian ingin membeli Pebble, sangat disarankan untuk membeli Pebble 2. Pre-order dan pembelian dapat dilakukan melalui website pebble di SINI.

Jika menurut kalian ada affordable smartwatch selain Pebble Classic ini, silahkan tulis di kolom komentar ya!


Sincerely,

sig

Iyori Kharisma

Related Posts...

1 Comment

Leave a Reply